QERVI logo

Kurva Treasury Mendatar Saat Minyak Turun di Bawah US$100

Penurunan harga minyak memberi ruang bagi aset berisiko, tetapi tekanan suku bunga jangka pendek tetap tinggi setelah lelang Treasury dua tahun mencetak yield tertinggi sejak 2024.

Ilustrasi profesional pasar global dengan grafik yield Treasury Amerika Serikat, harga minyak dan Bitcoin yang menggambarkan perubahan kondisi makro #Sources
Ilustrasi profesional pasar global dengan grafik yield Treasury Amerika Serikat, harga minyak dan Bitcoin yang menggambarkan perubahan kondisi makro #Sources

Pasar global memasuki kombinasi yang tidak biasa. Harga minyak melemah dan yield Treasury tenor panjang turun, sementara ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat tetap ketat. Kondisi ini membuat tekanan inflasi dari energi sedikit mereda, tetapi belum cukup untuk menghilangkan risiko suku bunga bagi Bitcoin dan pasar kripto.

Minyak memberi ruang, tetapi belum mengubah arah kebijakan

Brent sempat turun ke bawah US$98 per barel pada 22 September sebelum kembali bergerak di sekitar US$100. Penurunan ini terjadi di tengah harapan terhadap perkembangan diplomatik yang dapat memperbaiki aliran minyak dari Timur Tengah. Harga energi yang lebih rendah membantu mengurangi salah satu sumber tekanan inflasi yang sebelumnya mendorong yield obligasi AS ke level tinggi.

Yield Treasury 10 tahun ikut turun dari puncak sekitar 5,03% pada pekan sebelumnya ke area 4,93% sampai 4,98%. Secara permukaan, kombinasi minyak dan yield jangka panjang yang lebih rendah merupakan perkembangan yang lebih konstruktif bagi aset berisiko.

Tekanan justru bertahan di tenor pendek

Sinyal yang perlu diperhatikan datang dari pasar obligasi jangka pendek. Lelang Treasury dua tahun senilai US$69 miliar pada 22 September menghasilkan yield 4,787%, tertinggi untuk lelang tenor tersebut sejak Mei 2024. Permintaan tetap kuat, tetapi tingkat yield menunjukkan pasar masih meminta kompensasi tinggi untuk risiko kebijakan moneter.

Pada saat yang sama, pejabat Federal Reserve masih menekankan risiko inflasi dari gangguan energi. Akibatnya, kurva yield cenderung mendatar karena yield jangka panjang turun lebih cepat sementara tenor pendek tetap tinggi.

Kondisi seperti ini berbeda dengan lingkungan risk-on yang didorong oleh pelonggaran likuiditas. Pasar saham memang tetap kuat dan Nasdaq mencetak rekor penutupan baru, tetapi biaya uang belum memberikan konfirmasi yang sama.

Implikasi bagi Bitcoin dan pasar kripto

Bitcoin telah menunjukkan ketahanan setelah reli kembali ke area pertengahan US$80.000. Penurunan minyak dan yield jangka panjang membantu mengurangi tekanan makro yang sebelumnya membebani aset kripto. Namun, yield dua tahun yang masih tinggi berarti pasar belum memperoleh dukungan penuh dari sisi kebijakan moneter.

Jika minyak terus stabil di bawah US$100 dan yield jangka panjang melanjutkan penurunan tanpa kenaikan baru pada ekspektasi suku bunga, lingkungan makro dapat menjadi lebih ramah bagi Bitcoin dan aset berisiko. Sebaliknya, kenaikan kembali yield tenor pendek atau perubahan ekspektasi menuju kebijakan Fed yang lebih ketat dapat membatasi ruang ekspansi valuasi.

Yang perlu dipantau berikutnya

Fokus utama bukan hanya arah harga minyak, tetapi apakah penurunan tekanan energi akhirnya diterjemahkan menjadi ekspektasi inflasi dan suku bunga yang lebih rendah. Pergerakan Treasury dua tahun akan menjadi indikator penting karena tenor ini lebih sensitif terhadap proyeksi kebijakan Federal Reserve.

Untuk pasar kripto, kondisi saat ini lebih baik dibanding periode ketika minyak dan yield naik bersamaan, tetapi belum menunjukkan pelonggaran likuiditas yang bersih. Bitcoin masih perlu mempertahankan struktur pasarnya ketika dukungan dari short covering mulai berkurang dan pasar kembali menilai kondisi makro secara lebih fundamental.