QERVI logo

Inflasi AS Tetap Tinggi, Fed Pertahankan Nada Ketat Setelah Kenaikan Suku Bunga

Komentar terbaru pejabat Federal Reserve menegaskan tekanan inflasi AS masih luas setelah kenaikan suku bunga terbaru, menjaga risiko suku bunga tinggi tetap relevan bagi Bitcoin dan pasar kripto.

Ilustrasi Federal Reserve, grafik inflasi Amerika Serikat, yield Treasury dan Bitcoin dalam konteks kebijakan moneter ketat #Sources
Ilustrasi Federal Reserve, grafik inflasi Amerika Serikat, yield Treasury dan Bitcoin dalam konteks kebijakan moneter ketat #Sources

Federal Reserve kembali menegaskan bahwa tekanan inflasi Amerika Serikat belum cukup terkendali untuk mengendurkan sikap kebijakan moneternya. Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari mengatakan pada 20 September bahwa inflasi masih terlalu tinggi di berbagai bagian ekonomi, bukan hanya akibat kenaikan harga energi.

Pernyataan tersebut penting karena muncul beberapa hari setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75% hingga 4,00%. Kenaikan ini menandai perubahan kondisi likuiditas yang perlu diperhatikan pasar aset berisiko setelah periode ketika ekspektasi pelonggaran sempat menjadi salah satu penopang sentimen.

Tekanan Inflasi Belum Terbatas pada Energi

Kenaikan harga minyak akibat gangguan pasokan dan ketegangan geopolitik memang memperbesar tekanan harga. Namun Kashkari menekankan bahwa inflasi inti juga masih berada pada tingkat yang terlalu tinggi. Artinya, Federal Reserve melihat masalah inflasi sebagai tekanan yang lebih luas dan bukan sekadar kejutan sementara dari komoditas energi.

Kondisi tersebut mengurangi ruang bagi bank sentral untuk segera mengubah arah kebijakan. Mayoritas pejabat Federal Reserve masih memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini jika inflasi tidak menunjukkan perbaikan yang cukup meyakinkan.

Yield Treasury Menjadi Variabel Penting bagi Bitcoin

Pasar obligasi mencerminkan perubahan ekspektasi tersebut. Yield Treasury AS tenor 10 tahun kembali bergerak mendekati 5%, meningkatkan daya tarik aset berpendapatan tetap dan sekaligus menaikkan biaya modal bagi aset berisiko.

Bitcoin sejauh ini mampu bertahan di sekitar area 80.000 dolar AS setelah rebound tajam dari tekanan sebelumnya. Ketahanan tersebut menunjukkan permintaan belum sepenuhnya hilang, tetapi lingkungan makro saat ini berbeda dari kondisi yang biasanya mendukung ekspansi valuasi agresif pada aset berisiko.

Jika yield Treasury bertahan tinggi atau kembali menembus area psikologis 5%, pasar kripto dapat menghadapi tekanan tambahan melalui penguatan dolar dan penurunan toleransi investor terhadap risiko. Sebaliknya, stabilisasi yield akan memberi ruang bagi pasar untuk menilai apakah rebound Bitcoin memiliki dukungan permintaan yang cukup kuat di luar efek positioning jangka pendek.

Risiko Kebijakan Belum Selesai

Pasar kini tidak hanya perlu memperhatikan keputusan Federal Reserve berikutnya, tetapi juga perkembangan inflasi inti, harga energi, yield Treasury, dan data ekonomi yang menentukan apakah tekanan harga mulai mereda.

Skenario yang lebih konstruktif bagi aset berisiko membutuhkan bukti bahwa inflasi mulai melambat tanpa penurunan tajam pada aktivitas ekonomi. Sebaliknya, inflasi yang tetap tinggi dapat mempertahankan ekspektasi kenaikan suku bunga tambahan dan memperpanjang kondisi finansial yang ketat.

Bagi pasar kripto, pesan terbaru Federal Reserve menunjukkan bahwa rebound harga Bitcoin belum menghilangkan risiko makro. Kemampuan BTC mempertahankan struktur pemulihan ketika yield tetap tinggi akan menjadi salah satu indikator penting untuk menilai kekuatan pasar dalam beberapa sesi berikutnya.